Minggu, 02 Maret 2014

Pacaran perlu enggak ? Part 1

Pacaran perlu enggak ?

Iya tema ini menjadi topik untuk  kita Berbagi ceriTa. Loch, mengapa harus itu sih temanya ?
Kalau begitu yuuk, kita mundur ke haru rabu tepat tanggal 26 Februari 2014, pada saat itu saya sedang memandu acara BeriTa (Berbagi ceriTa) dimana saya mengadakan voting, apa yang ingin dibagikan  untuk cerita di malam hari pada pukul 19.00-21.00WIB, sebagai teman berbagi cerita di hari sabtu, 01 Maret 2014. Masih ingat jelas dalam benak saya, saat itu pilihannya adalah :
a.       Tentang Pria Sejati,
b.      Pasangan Ideal, dan
c.       Pacaran perlu enggak sih ?
Dan, wow inilah hasil voting itu :
a.      Pria Sejati : 500 Point
b.      Pasangan ideal : 200 Point
c.       Pacaran perlu gak ? : 1200 Point

#Wargi yang tidak memilih dan mendukung = 300 Poit


Jelas dari hasil voting, ternyata pilihan c (Pacaran perlu Enggak ?) adalah pemenang dari voting tersebut. Well, yuuk kita coba kupas.
Gini dech sebelum kita memutuskan, “Apakah pacaran itu perlu atau enggak?” kita coba pelajari atau paling tidak telusuri, “Apakah pacaran memiliki manfaat atau tidak ?”
Manfaat Pacaran, ini loch kata orang – orang yang saya tanyain “Apakah pacaran itu perlu dan apa alasannya ?” Jawabannya bagi mereka yang mengatakan Perlu, ada pula yang bilang dan menjawab dengan begitu exaited perlu sekali. Dengan alasan yang bermacam – macam :

a.       Untuk saling mengenal satu sama lain, (Kalau gitu, cukup dong dengan berteman)
b.      Untuk memahami karakter masing2, (saya rasa ini sama saja dengan yang diatas)
c.       Ikutan Trend, biar enggak dibilang cupu (ini tipe yang Galau, enggak punya Prinsip kuat)
d.      Keren aja kan, punya mantan (Hanya ngerasa keren kalau punya mantan, tapi dijadikan mantan enggak mau?)
e.      Tambah semangat belajar, jadi nilai2 di sekolah enggak turun. (Emm, yang ada nilai anjlok karena konsetrasi terpecah)
f.        Proses pemilihan mencari yang terbaik (Wahhh bagus ya kayak kontes kecantikan aja, ada pemilihan. Padahal kan dalam Islam ada Istikharah)
g.     Cari yang cocok dan Pas ( Sama aja dengan yang di atas, cocok dan pas ukuran atau menurut siapa ? Emang baju, gak pas/cocok ganti)
h.      Proses pendewasaan diri (pacaran itu, enggak bikin dewasa. Bikin otak ngeres, iya.)
i.         Pacara itu bisa menjalin silahturohim (Ustadz ‘Nah bilang, kalau silahturohim itu yang bermnfaat atau dapat memberikan serta menghasilkan kebaikan satu sama lain. Kalau pertemuan menjadikan mudhorot, yaela bukan silahturohim itu mah)
j.        Pacaran itu gaya hidup (Gaya hidup siape? Islam tidak mengajar hal demikian)
k.       Bla, ble,blo dan banyak lagi alibi yang disampaikan.

Nah, coba dech dicermati semua alasan tersebut, saya percaya kalau kita pahami betul nampaknya tidak ada manfaat apapun dari yang namanya PACARAN. Yang ada merugikan!!!
Pacaran itu merugikan kedua belah pihak, terutama pihak wanita. Coba dech di telusuri, kebanyakna dampak dari pacaran adalah menghasilkan hal tak menyenangkan, membawa si pelaku dalam jurang kenistaan tidak ada yang indah, nampak menyenangkan di awal, seolah nikmat namun membawa sengsara. Banyak wanita hamil ditingglkan, dengan alasan belum siap menikah. Nah, kalau belum siap menikaah, kenapa harus jadi Ayah sebelum menikah. Lihat, betapa malangnya dan meruginya kaum hawa yang terlibat dalam konflik hubungan pacaran. Untuk lelaki juga sebetulnya tidak menyenangkan loch, habis berapa duit tuhh buat modalin pacaran, mending ceweknya satu, kalau 10 dengan alasan proses pemilihan yang terbaik. Coba berapa duit yang keluar. Mending tuh duit ditabungin buat meminah dan menikah.
Bagaiamana sampai sini, sudah bisa menjawab tentang “Apakah, Pacaran itu perlu atau enggak ?”
Emmm, masih bilang iya ?

Oke, mari di simak hadist yang satu ini :
“Wahai kaum pemuda! Barang siapa di antara kamu sekalian yang sudah mampu memberi nafkah, maka hendaklah ia menikah, karena sesungguhnya menikah itu lebih dapat menahan pandangan mata dan melindungi kemaluan (alat kelamin). Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penawar bagi nafsu.” (Shahih Muslim No.2485)
Ayo, apakah ada kata Pacaran disana ?
No, karena memang tidak ada.
“Tapi, kan Teh, kita harus saling mengenal ?”
Kan, ada Ta’aruf.
Ta’aruf itu kan hanya perkenalan dua keluarga saja, tapi kan tidak mendalam secara menyeluruh.
Aehhh, emang pacaran mau tahu sampai dalemannya segala yaa ? (iich, otaknya ngereees banget tuh)
Sudahlah pacaran itu bak pintu menuju tempat kemaksiatan, karena banyak diantaranya yang malah terjerumus dan menjerumus pada perzinahan. Ingatlah, zina itu bisa saja terjadi tanpa kita sadari mulanya, lanjutnya itu adalah kemaksiatan yang dialkukan berdasarkan hawa nafsu yang beralasan kekhilafan manusia.

(ini ada kutipan pacaran menurut blog tetangga, maaf saya lupa nama blognya apa ya)
“Yang namanya pacaran adalah jalan menuju zina dan itu nyata. Awalnya mungkin hanya melakukan pembicaraan lewat telepon, sms, atau chating. Namun lambat laut akan janjian kencan. Lalu lama kelamaan pun bisa terjerumus dalam hubungan yang melampaui batas layaknya suami istri. Begitu banyak anak-anak yang duduk di bangku sekolah yang mengalami semacam ini sebagaimana berbagai info yang mungkin pernah kita dengar di berbagai media. Maka benarlah, Allah Ta’ala mewanti-wanti kita agar jangan mendekati zina. Mendekati dengan berbagai jalan saja tidak dibolehkan, apalagi jika sampai berzina. Semoga kita bisa merenungkan ayat yang mulia. “
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’: 32). Asy Syaukani rahimahullah menjelaskan, “Allah melarang mendekati zina. Oleh karenanya, sekedar mencium lawan jenis saja otomatis terlarang. Karena segala jalan menuju sesuatu yang haram, maka jalan tersebut juga menjadi haram. Itulah yang dimaksud dengan ayat ini.”

Gimana, sekarang boleh jadi sudah mulai sedikit ragu ya untuk mengatakan iya pada pacaran. Jangan sedikit ya, katakan saja “kalau kamu ingin bersama saya dan serius datang kerumah dan pinanglah saya?”
Sebagai wanita tak usah malu mengatakan demikian. Tapi kan teh, laki laki nanti lari dan takut kalau kita langsung bilang gitu?
Laki2 atau Pria Sejati tidak akan seperti itu, ia kaan datang menemui walimu jika ia tertarik apadamu dan ingin serius padamu.
“Teh, kita kan masih kecil belum siap nikah, mau cari uang dulu, bla ble blo ?”
Kalau begitu, puasa saja dan kumpulkan apa itu materi. Siap datangi walinya.
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".” (QS. An Nur: 30).
“Wanita yang baik akan berjodoh dengan Pria yang baik.”
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)….” (QS. An-Nuur: 26)
Jadi jika kita ingin memperoleh jodoh yang baik, persiapkan diri kita untuk menjadi baik.
Nah, ini yang namanya Pasangan Ideal. Berusaha menjadikan diri baik dan sholeh serta sholehah untuk calon pasangannya kelak, dan pacara itu silakan dilakukan dan ni’mati dengan seindah serta seromantis mungkin selepas menikah, karena keinginana/hasrat apa yang pria lakukan pada wanita  dalam pernikahan akan menjadi halal dan ibdah, selama itu mengikuti tuntunan al- qur’an dan Rosul.

Saat ini, segitu dulu yaa. Semoga bermanfaat, kesimpulan Tentang Pacaran, Perlu enggak ? Saya percaya semua yang baik dan benar akan kembali pada tempatnya ^^

Terima kasih sudah mampir...
Boleh ammpir lagi, kapan - kapan ?
Salam bahagia penuh Inspirasi ^^











Rabu, 26 Februari 2014

Embun

Embun, dibalik dedaunan
sementara angin mengoyang dan membuatnya seolah menari dengan lagu dari pohon bambu.

Embun, kubayangkan mengukir nama dibalik jendela.
Sementara itu mataku juga tertuju pada air yang begitu cembung menggelayut di tangkai itu.

Embun, kamu lembut namun juga rapuh.
Karena rapuh, aku tak ingin menyakitimu.
Embun ku jaga kamu agar tak lenyap oleh jemari lentik yang begitu nakal ingin menyentuhmu.

Embun, apa boleh buat ?
Meski ku jaga kamu sebaik mungkin, 
kamu pun luntur tertelah bias mentari.
Jangan sedih Embun,
esok pagi, Insya Alloh kita kan jumpa lagi.

Lelaki Itu, Kamu!!!

Lelaki itu,
Bahkan tak mampu lama menatap mataku....
Bukan karena ia merasa aku tak menarik baginya, namun ia menjaga kami berdua agar memperoleh kebaikan dari suatu jalinan.

Lelaki itu,
Menunggu kata iya, dari apa yang telah ia tanyakan padaku.

Lelaki itu,
Dengan penuh harap dan tak lepas doa menggema untuk kabar yang telah lama ditunggu atas perjuangan.

Lelaki itu,
Seorang perkerja keras,
Senyumnya menyambut mentari...
Air matanya tak keluar sia2, kalau bukan karena doa memohon dan menghiba pada-Nya.

Lelaki itu,
Pada waktunya akan memperoleh apa yang telah ia semaikan bibitnya.

Lelaki itu,
Sampai saat ini, masih kukuh menjaga hati dan pikirannya.

Lelaki itu, kamu.

Selasa, 25 Februari 2014

Lelaki itu...


Lelaki itu...

Ia tak berani menatap mata,
sekedar berbincang manis beramah tamahpun ia enggan,



Lelaki itu,
bukan karena ia begitu angkuhnya tak bercanda gurau,
ia hanya ingin menjaga dirinya hanya untuk bidadari dalam hidupnya yang menemani saat suka dan duka...



Lelaki itu,
ia tak menjanjikan harta benda,
ia hanya berkata ketika bumi haus, Alloh menurunkan hujan. 
Tapi bila kita merasa lapar akan ilmu, Alloh sediakan begitu banyak cara dan jalan untuk kita belajar.

Lelaki itu,
senang membesarkan hatiku,
ia bahkan memanjakan aku dengan doa pagi disetiap pesan pertama yang kuterima.

Lelaki itu, berkata "Siapkan dirimu untuk ku pinang, karena aku telah terlebih dulu menyiapkan diriku agar pantas meminangmu."

Lelaki itu,
sungguh tak pandai membuat bait - bait kalimat puitis,
namun ia mampu membuat setiap tindak tanduknya terlihat manis,
tanpa ada suara dan tanpa ada sentuhan.

Minggu, 26 Januari 2014

Catatan Mata

Aku sudah lama menunggu matahari itu terbit,
namun tetap saat ku buka mata ternyata gelap nampak di ahri ini,
lagi, lagi dan lagi tak henti - hentinya terus ku berdoa meminta mendpati matahari yang terbit kemudian ia terbenam dan aku ada sebagai saksinya.
Namun, lagi - lagi pula aku terlalu terlena dalam do'a hingga terbit maupun tenggelam aku jua tak mampu melihatnya.

Sempat aku mati, matahari itu.
Aku pekikan penginaan yang menusuk,
namun aku tak jua mendaptkan respon yang diharap.
Lagi - lagi, kekecewaan mengampiri dengan berjuta harapan bisa melihat mentari itu.

Ahh!! Apa yang salah padaku ?
Apakah Indonesia memang tak bermatahari?
Atau aku yang tak bisa menerima keberadaan diri,
kondisi dimana memang aku harusnya lebih bersyukur karena hanya tak dapat melihat saat mentari terbit dan terbenam.
Sementara masih ada orang yang kulitnya lantas memerah dan melepuh, karena tak boleh terkena sinar mentari.
Ya, akhirnya aku pahami diri.
Aku mulai terima kondisi yang memang tak bisa melihat keindahan Ciptaan-Nya,
namun begitu harus ku syukuri karena aku masih bisa merasakan hangatnya bias mentari.

Sabtu, 25 Januari 2014

Hanya ingin menulis

Dan saat semuanya hilang, tengoklah siapa dan apa yang tersisa dalam hidupmu, tidak meninggalkanmu, tetap menguatkanmu dan menemani dalam uzianmu. Itulah yang namanya KETULUSAN. ^^


Saya masih lebih bangga menjadi orang yg memiliki hati namun tak pandai membuat orang lain terluka, dibanding menjadi orang pandai yang tanpa hati melukai perasaan orang lain.
#Tenggangarasa


Tenggang rasa itu sederhana, tidak mempersulit kondisi temannya yang sudah sama sama sulit.
#Tenggangrasa

Sabtu, 11 Januari 2014

Cerita Dia

Aku tahu, sungguh aku mengetahuinya.
Dari awal aku sudah mengetahui itu mau mu.
itulah sebabnya, aku memintamu untuk berkata jujur...
sementara itu, kamu terus berkelak,
kamu berkelit bahkan ironisnya berbakti kepada ibu dijadikan alibi tanpa hati.
Aku bukan ingin ikut campur dalam hidupmu,
kamu sendiri yang menarikku masuk kedalam kehidupanmu,
Manfaatkan aku sesuka hatimu, kau lakukan itu.
Perlu kau datangi aku, sudah tak menarik kamu lempar aku.

Sudahlah, tak perlu kamu mencari alibi untuk pembenaran diri.
Apakah kamu pikir, perbuatan baik dengan cara tak benar adalah tepat?
Sementara bersedekah dengan uang haram pun dilarang!

Iya, aku pahami keinginanmu.
Namun, tak pernah kau berkata jujur untuk apa yang telah terjadi.
Kamu tersenyum manis, sementara laku mu menusuk dari belakang.
Kamu sebut aku, kakak...
sementara prilaku mu mengatakan aku adalah musuhmu.

Kamu kata, suka dengan nasihatku..
maka tak henti - hentinya, meskipun libur aku menemanimu mengapus air matamu,
dibalik bayanganku kamu injak, kamu maki dan kamu teriakan dengan lantang bahwa aku sedang membuli.

Kamu tahu, aku bahkan menangkap basah dirimu membicarakan aku...
berkabar tak benar pada rekan - rekan perjuangan.
Apa aku memaki mu?
Tidak! Karena ku tahu, Alloh Mahamengetahui yang benar dan tidak.
Tak perlulah rasanya aku melabrak dan mengina mu, aku menjaga wajahmu yang sudah tak memiliki harga diri dihadapanku.
Kemudian, untuk hal itu...
Apa kamu bertanya tentang perasaanku?
Tidak!Karena aku sadri benar, yang kamu pedulikan hanya perasaanmu saja.
Kamu malah sibuk membicarakan tentang nasib buruk yang ternyata semua rekaanmu.

Ooh, betapa baiknya kamu menyusun skenario.
Seolah semua nampak indah dan baik,
tersusun begitu rapih,
seolah tersakiti begitu merintih, 
padahal sedikitpun kamu tak pernah menuangkan hati saat berbagi bersama kami.

Ironis memang, tapi itulah arti persahabatan dimata mu.
Dibalut kata saudara, bersama saat ingin dan tinggalkan saat bosan mengampiri.